Beranda > Cerpen > Jeritan Dari Atas Trotoar

Jeritan Dari Atas Trotoar


JAM sudah menunjukkan pukul 5 Sore, hari ini menjadi hari yang istimewa bagiku, sampai-sampai aku menuliskanya dalam kalender bening di meja kerjaku. “Sore-sore begini enaknya jalan keliling kota, lagian cuaca diluar juga mendukung”, gumang seseorang dari sudut ruangan. Entah kepada siapa dia bicara, aku sambil rapikan berkas tugas yang masih berserakan di meja kerja diam saja. “Oh ya….!! kamu suka ngak sih keluar sore-sore kayak gini? hilangkan penak gitu setelah kerja satu harian”, belum juga terlihat wajahnya, kucoba palingkan mata kesekeliling ruangan, tak ada lagi orang disana.  “Siapa temanya bicara?”, gumangku sembari lanjutkan merapikan berkas dan masukkan kedalam tas.

Lama juga dia diam sebelum suara dari pojok ruangan kembali terdegar, “Helooo..!!!! Masih disanakahh kamu..!!”, “udah pada pulang da waktunya pulang kaliiiiii“, aku menyahutnya dengan suara tinggi, “lah..!! truss kamu kenapa belum pulang”, suara itu semakin jelas saja terdegar, “sudah mau pulang”, lanjutku tampa mempedulikanya seraya mematikan komputer yang dari tadi hidup. “Trus kamu sendiri kenapa belum pulang.. hahahha, penghuni kantor yah”, aku tertawa dan beranjak dari tempat duduk mendekatinya, teryata dia adalah Reni, Reni teman saat mengikuti interview dikantor  temapt kami kerja sekarang  “Walah kamu yah, cuek amatt..!! dari tadi dipanggil-panggil diam aja, tuli apa budek..!! hahhaha…” dia meledekku, “yah gak mungkin dong..!! ganteng-gamtemg gini ko budek..!!” hanya sedikit angkuh aja hahhha”, aku tertawa membalas ledekannya, “lagian kamu entah ngomong sama siapa tadi, rasanya tak ada orang lain disini lagi dah kecuali kita berdua, panggil kek namanya..!!”,  sambil menghampirinya, aku memberi saran sama dia. “Yah gomong ma kamu, berarti dari tadi kamu”, dia dengan sedikit rasa jengkel, “memanglah kamu yah”, dia melanjutkan ucapanya. Aku kira kamu ngomong sama siapa di sudut situ makanya ngak aku sahutin heheh..!”, dengan sediki senyum, “kenapa belum pulang masih banyak kerjaan, besok lagi dilanjutkan sekarang sudah waktunya pulang”, sambil kugedor meja kerjanya.

 Walah satu-satu pertanyaanya napa, nih napas saja  belum sempat awak(saya) sudah di ditanyain yang lain lagi”, hahahhaha aku tertawa, “ketawa lagi”, dia memukulkan buku yang dipengangya kepundakku, “aku memang sudah mau pulang kamu aja yang sok tau dengan muka merah dia menatapku”. ya bukan gitu lohh, aku keluar dari  ruangan kerjanya. “Yo sama kita keluar bareng, katanya kamu dah mau pulang”, aku menghampiri dia lagi, dengan canda kami jalan sama menuju tempat parkir lantai bawah gedung tempat dimana kami kerja, “waduh ban motorku bocor lagi, apes apes apes..!!”, “kenapa , apumu yang apes” dengan sedikit canda aku coba mengubar tawa, “nih ban motorku bocor”, “yadah bawa aja tuh kebengkel”, aku mejawabnya.  “Sudahlah kita titipkan di bengkel saja, kita sama saja pulang kebetulan kita satu arah”, dengan sedikit aku menawarkan tumpangan sama dia, “okelah ga papa, tetapi kita antar kebenkel dulu yah”, ia aku menjawabnya.

Kamipun pulang sama, seperti biasanya kalau sudah sore hari jalan-jalan di kota Medan pada macet, tambah lagi lalu lintasnya yang sembrawut,  siapa baru pertama  kejalanan di kota Medan ini pasti Pusing sendiri ditengah jalan.  “Kapan jalan di Medan ini bisa seperti sungai yah, lancar trussssss”,  dengan sedikit keluh Reni bicara, “yah memang jalanan disini sudah seperti sungai, tampa hambatan” dengan sedikit aku membetulkan duduk yang mulai pegal, sudah hampir 30 menit kami ditegah jalan itu tampa bisa bergerak sakin macetnya, “taulah sungai di Medan nih selalu dipenuhi sampah, sama juga dengan jalan-jalan disini kebanyakan sampahnya soalna hahahah..!!” aku tertawa sambil mencoba mengendalikan motor kepinggir jalan, “hehehe kamu, berarti yang ada dijalan ni sampah maksudmu ?”, dia memukul pundakku, “yah  bukan gitu..!! cuman saja lalu lintasnya dan yang memakai lalu lintas saja yang bersifat seperti itu sembrawut, ya sumbat jalanya”, aku mencoba memberi alasan mengenai apa yang saya katakan barusan.

Kami masih dijalan disaat tanda-tanda malam telah terlihat, dengan hati-hati aku mengemudikan motor dari pinggir jalan dan mencari jelah untuk lewat, sedangkan Reni yang duduk dibelakangku tidak menguluarkan sepatah dua kata lagi, mungkin sudah bosan, seperti rasa bosan yang saya alami ditengah jalan tersebut. “Bang bang, kasihani kamil bang, Mbak mbak kasihani kamil mbak, kami blum makan dari tadi pagi”, suara itu  spontan saja mengecutkanku, aku terkecut karena dari tadi pikiranku sudah melayang entah kemana karena rasa bosan yang saya alami dipinggiran jalan tersebut.  Kuarahkan pandanganku ke aras suara itu, dua anak kecil yang menurutku masih berumur 6-7 tahun dengan baju putih yang  bermetamorfosa jadi warna joklat dan hitam, mengenakan celana pendek yang diikat dengan plastik hitam dan koyak, aku diam sambil memperhatikanya, “Dimana rumahnya dek”, Reni mencoba menyapa kedua anak itu,  “Kami tak punya rumah Mbak, kami tinggal disini”, yang 1 mengarut-garut tanganya mungkin karena belum mandi, yang satu lagi memegang perutnya mungkin benar mereka sudah lapar, “trus Bapak sama Ibunya dimana?” aku mencoba bertanya mengenai keberadaan orang tua kedua anak itu,  “Kami tak tau Bang, kami juga ngak tau mereka dimana”, anak yang paling kecil yang ternyata bernama Sandra mengusab air mata dipipinya, “kenapa menagis?” tetapi anak itu diam saja, mungkin dia ingin bertemu kedua orang tuanya saat kami barusan menanyakan keberadaan mereka.

Suasana tempat itu terasa sunyi dan hening oleh karena situasi yang kami dapatkan dari kedua bocah-bocah kecil itu, suara ribut kendaraan yang lalu lalang di jalan itu tak lagi terdegar ribut karena kedua anak itu. Anak sekecil ini saja mengerti arti kasih sayang, dia menangis saat ada orang bertanya mengenai keberadaan orang tuanya, tangisan anak itu sudah menjadi sebuah bukti nyata yang dia berikan betapa ia memiliki rasa rindu akan kasih sayang, bagaimana pula dengan mereka, mereka yang menjadi orang tuanya yang menelantarkan mereka di pinggir jalan itu menahan dingin dan panas, haus dan lapar bahkan sampai menanggung nyawa. Tidak kah ada rasa rindu dari mereka?, sungguh tega mereka menelantarkan darah daging mereka menderita di jalanan ini.

Bukan hanya mereka rupana dipingiran jalan tersebut masih ada anak-anak yang lain bermain di atas trotoar jalan itu.  Setiap hari disana menahan dingin dan teriknya matahari, terkadang mereka diusir oleh Sappoll PP yang menertibkan jalanan, dan bahkan karena ulah Salppol PP yang arongan dari cerita anak-anak disana pernah seorang anak kecil terlindas Mobil Angkutan Kota dan meninggal karena moncoba menyelamatkan diri dari kejaran Sappol PP, terus bagamana sekarang? “masih sering terjadi”, ini jawaban yang kita dapatkan saat bertanya.  Bagamana perasaan Sappol PP ataupun Pejabat yang menyuruh mereka, melihat anak kecil yang terlindas tersebut? sampai tegakah mereka? yang seharusnya mereka melindungi, memberikan masa depan kepada mereka, bukan menambah penderitaan yang mereka alami, wahai pejabat yang merasa terhormat coba palingkan pandangamu ke atas trotoar-trotoar itu.

Beranikah dirimu memberi mereka masa depan seperti saat engkau mengubar janji mengurangi kemiskinan, membina anak-anak jalanan dan janji abal-abal lainya, saat engaku berkampanye? Kacang lupa akan kulitnya itu sudah biasa kita dengar, memang kacang  tidak benar lupa akan kulitnya kita saja yang melepaskanya dari kulitnya, terus…!! bagamana dengan mereka yang lupa akan janjinya?, saya rasa perlu juga orang-orang seperti itu dilepaskan dari kulitnya.

Mereka menahan dingin dan panas, haus dan lapar terancam dari banyak hal dan tersisih, sanggubkah kita jika berada pada  posisi mereka setelah siapa kita sekarang?, aku hanya bisa mengusap kening yang makin terasa saja kerutanya ditelapak tangan ini, kulihat anak-anak itu  lagi yang berdiri disampingku dan kulihat Reni yang duduk diam dibelakanku, bola matanya berkaca-kaca mendengar cerita dua orang anak itu. Kami meminggirkan Motor dari jalan yang mulai Normal tersebut,  kami turun dari Motor tampa sedikit rasa segan Reni memegan tangan kedua anak itu, lalu dia memeluk Sandra anak yang paling kecil tadi, bola matanya mulai bening dan tak tahan menahan tangis karena haru,  aku mencoba menenankanya dengan memegang pundaknya, “sudahlah Ren..!! kita bantu anak ini semampu kita”,  dengan pipi yang mulai basah dia mengarahkan pandanganya kearahku dan hanya  mengangukan kepala.

Sambil berdiri aku mencoba menelusuri keseliling jalan itu mencari tempat dimana kita bisa mengobati rasa lapar dan haus kedua anak itu, tak jauh dari tempat  kami berdiri ada sebuah rumah makan, yang kata mereka sering perti kesana mengambil sisa-sisa makanan yang dibuang penjual warung nasi tersebut.  Kami sama-sama jalan  ke rumah makan tersebut, sedangkan Reni masih tetap memengangi tangan kedua anak itu sambil menuntun mereka jalan.  Dua piring Tiga piring habis juga mereka lahap dan meskipun mereka sudah begitu lapar-laparnya mereka masih mengigat teman yang lainya, “Mbak dibungkus saja yah, untuk teman-teman kita disana kasihan mereka belum makan” ujar Beni anak yang paling besar ketika  ada sedikit nasi tersisa dipiring, “ngak apa apa dek, habiskan ja, nanti kita belikan buat mereka disana”, sambil Reni membelai rambut Sandra yang duduk disampingya, “berapa orang teman kita disana San? dia mengajak anak yang paling kecil untuk bercanda, “6 lagi kak”, dengan sedikit senyum tampa ada air mata lagi dipipinya dia menjawabya dengan cepat. Senang rasanya melihat mereka senyum, andaikan mereka seperti ini terus, jangankan seperti ini andai saja orang tua mereka datang menjemput mereka dari jalanan itu, pasti mereka akan lebih bahagia dari sekarang tetapi harapan itu mungkin hanyalah sebagai angin lalu saja.

Kami  kembali ke trotoar tempat itu kembali dengan 8 bungkus nasi terbungkus rapi di dalam plastik sesampai disana Beni memangil kawan-kwanya untuk mendekat kepada kita, aku dan Reni membagikan nasi yang kami bawa tadi kepada mereka dan juga Sandra dan Beni, mungkin mereka lapar  ketika melihat kawan-kawanya melahap nasi yang kami bawa. Suasana malam terasa sudah ditempat itu dan kami juga tidak harus selalu bersama mereka, sebelum kami pamitan pulang. Kepada Beni dan Sandra aku memberikan sedikit bekal untuk esok hari dengan sedikit canda, “Sandra jangan nagis lagi yah, ingat ada abang Beni, Kakak, dan Abang dan juga kawan-kawan yang lainya yang sayang sama kamu, Abang dan Kakak pulang dulu, besok-besok kita akan datang lagi kesini”, “Beni jaga adekmu jangan pernah tinggal kan dia”, Reni pun berpesan kepada Beni, akupun memasukkan bekal kesaku mereka dan juga Reni melakukan hal yang sama. Tak ada kata-kata yang mereka ucapkan ketika kami pamit pulang, diam membisu seolah tak mengijinkan kami pulang, tetapi karena janji yang Reni berikan besok-besok kami akan datang lagi, merekapun hanya mengangukan kepala dan tak mengalihkan pandangan sampai kami mengilang di sudut simpang jalan.

*****
Beberapa hari setelah peristiwa tersebut kami sering datang kesana dan membawakan makanan bagi mereka, saat Reni tak sempat aku meluangkan waktu untuk datang ketempat itu, 2 minggu pertama aku masih melihat mereka disana dengan syair lagu-lagu merdu yang mereka bawakan, terkadang aku meminta mereka menyanyi untukku dan mereka teramat suka melakukan itu.
Pada minggu ke-4 aku datang kesana dan tidak menemukan Sandra anak satu-satunya perumpuan yang tinggal diatas trotoar itu, Beni abangya hanya meneteskan air mata saat aku bertanya dimana Sandra Adeknya tersebut berada, “Sandra terdabrak bang, saat kami lari dari kejaran Sappol PP”, dan dia tak tau sekarang Sandra dimana.

Aku hanya bisa diam dan memukulkan tangan ke atas trotoar itu, jika Reni disini mungkin saja dia akan menangis mendegar berita pilu ini, tetapi aku, aku….!!!, aku…..!!!  hanyalah lelaki yang tak punya cukup air mata untuk menangis, hanya diam membisu yang dapat aku lakukan saat aku merasakan sedih seperti itu. Mungkin bagiku Mereka ini tidak siapa-siapa, toh aku masih punya sahabat dan keluarga, dan rumah untuk berlindugn. Tetapi bagi mereka yang hidup di trotoar itu? bukan hanya aku, kita…!!!, kita semua adalah keluarga bagi mereka dari kitalah mereka mengisi perut dari uang seribuan, recehan yang kita berikan kepada mereka, walapun terkadang dengan ejekan kita melemparkan recehan itu ke dalam mangkok-mangkok yang mereka sodorkan.

Tetapi entah mengapa, yang seharusnya melindungi mereka malah menambah beban penderitaan mereka, mungkin sajaSandra yang saat itu tidak lagi aku temui disana, tetapi nanti? akankah aku masih menemukan mereka semua di tempat ini?, mungkin Beni mengerti apa yang aku rasakan saat itu, dia terduduk lesu diam dan memandangku yang ikut terdiam dengan tatapan kosong.
Ternyata ucapaku itu benar 1 minggu berselang aku datang  kembali ketempat itu,  tidak ada satu orang pun dari anak-anak jalanan itu kutemui disana jangankan mereka, jejak kakinya saja tak terlihat lagi diatas trotoar itu, tumpukan-tumpukan nasi yang terbungkus dan disususn rapi di dalama plastik hitang yang kubawa, kuletakkan diatas trotoar tempat mereka biasa bermain, sekarang trotoar itu sudah bersih, pengamen jalanan sekarang banyak disana, terkadang aku datang kesana untuk mendegar jeritan-jeritan dari atas trotoar saat libur kerja, atapun sengaja lewat dari sana,  posisi mereka sudah tergantikan dengan anak-anak puck, tetapi sampai saat ini mereka tidak kutemukan dan cerita kemana mereka pergi tidak ada  terdengar.(*)

Trotoar di jalan Guru Pattimpus, mengapa engakau membisu saat aku coba bertanya. Adakah engkau tahu anak-anak itu pergi kemana? dan Reni kemanakah engakau melangkah setelah itu, adakah engaku yang membawa mereka pergi?

by : Anju Sinaga

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: