Beranda > Cerpen > Penuntun Waktu yang tak Terbendung

Penuntun Waktu yang tak Terbendung


Sang ibu muda, melangkahkan kaki di jalan kehidupan.

’Ya, dan jalannya berat.

“Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini

Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.”

A.M.Sinaga

Tetapi ibu muda itu bahagia, tidak tahu akan ada hal yang lebih baik dari pada tahun-tahun ini.

Karena itu sang Ibu bermain dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga, mengejar kupu-kupu untuk mereka Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.

Matahari bersinar diatas mereka dan ibu muda itu berseru, “Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.”

Lalu malam tiba, malam yang datang bersama badai. Jalan-jalan gelap, anak-anak itu gemetar ketakutan dan ketakutan. Ibu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantelnya.

Anak-anak itu berkata, “ Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat, tak ada yang dapat menyakiti kami.”

Malam Badai berlalu dihantarkan datangya fajar. Sang Ibu menjabah anak-anaknya untuk menapakali jalan dan bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan menjadi lelah. Ibunya juga lelah.

Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya, “Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.”

Demikianlah anak-anak itu memanjat terus. Saat sampai di puncak, mereka berkata, “Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.”

Malam tiba, saat ibu berbaring dan menatap bintang-bintangdan berkata, “Hari ini lebih baik dari pada yang lalu karena anak-anakku sudah belajar daya tahan menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini saya memberi mereka kekuatan.”

Keesokan harinya, sang awan menghempas menggelapkan bumi, Awan perang, kebencian dan kejahatan. Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung dalam gelap.

Ibunya berkata,

“‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.’”

Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi

yang menuntun mereka melalui kegelapan.

Dan malam harinya ibu itu berkata,

“Ini hari yang terbaik karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku”

“Tiada hari yang menetap, seperti dentuman detik arloji yang tidak akan pernah berhenti, demikianlah penyandang nama hari akan bergerak””

A.M.Sinaga

Hari berganti..!!!!

minggu, bulan, dan tahun.

“”diumpama biji pohon tihempaskan burung dari ranting-ranting-nya, jatuh ketanah, tumbuh, besar, dan akan jatuh ketanah juga””

A.M.Sinaga

Demikianlah…!!

Ibu menjadi tua, kecil dan bungkuk. dan lihat anak-anaknya, tinggi, kuat dan berjalan dengan gagah berani. Saat jalan sang ibu yang sudah tua sulit, mereka membopongnya. Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat sebuah jalan yang bersinar dengan pintu gerbang yang terbuka lebar seolah tak henti untuk menyambut.

Ibu berkata,

“lihatlah Nak, Saya sudah sampai pada akhir perjalananku. Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya. Karena anak-anakku sudah dapat berjalan sendiri dan anak-anak (cucu) mereka ada di belakang mereka.”

Dan anak-anaknya menjawab,

“Ibu selalu akan berjalan bersama kami meskipun ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.”

Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri, ”Kita tak dapat melihat ibu lagi tetapi dia masih bersama kita.”

“Ibu..!! engkau lebih dari sekedar kenangan. yang senantiasa hadir dan hidup.”

A.M. Sinaga

Ibumu selalu bersamamu….

Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan.

Ia adalah wangi di bajumu.

menjadi tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.

Ibu hidup dalam tawa candamu.

menjadi kristal suci dalam tiap tetes air mata.

Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.

jalanuang kita ikuti pada tiap langkah

dialah cinta pertama-ku

dan didalamnya hati patah.

Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.

Tidak itu waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!

Teruskan kasih sayang-nya dan anak-anak-mu klak.

Dialah PENUNTUN WAKTU YANG TAK TERBENDUNG,

tentunya untuk kita semua,  Semoga kita tidak pernah mengabaikan begitu saja ibu kita.(*)

Medan, Oktober 2012

Kategori:Cerpen Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: