Beranda > Cerpen > Kamu Ngak Pulang?

Kamu Ngak Pulang?


Setiap kali perempuan itu datang, kira-kira pukul sepuluh pagi, ia menyapaku seperti itu. Meskipun sesungguhnya itu kalimat tanya, aku kira, ia tidak bermaksud bertanya sama sekali. Itu pernyataan yang menyamar sebagai pertanyaan.

Aku tidak pernah menanggapinya. Setelah mengatakan kalimatnya, perempuan itu akan masuk ke ruangan kerjanya di samping ruang ku. Ia akan duduk di sana entah beberapa waktu, dan menulis sesuatu entah apa tanpa memberiku waktu menanggapinya. Selalu seperti itu. Akhirnya, aku merasa  kalimat itu memang tidak perlu ditanggapi.

Sering kali, aku pikir ia tidak kreatif. Setiap pagi, ia menyapa dengan kalimat yang sama. Tidak pulang, kan? Apakah ia tidak bisa menemukan kalimat lain yang lebih menarik lebih baik? Kenapa ia tidak sesekali mengatakan, misalnya, ‘rambutmu kusut sekali pagi ini’ atau yang lain yang maksudnya sama. Mestinya sebenarnya aku tidak suka kalimat-kalimat klise.

Ia selalu menemukan aku memandangi monitor setiap pagi, ketika ia datang. Hal itu sesungguhnya satu jawaban. Aku tidak mungkin baru bangun. Setiap kali ia datang, pintu sudah terbuka, lantai-lantai sudah disapu, juga buku-buku sudah kembali tertata rapi di rak. Tentu saja  cleaning service   yang duduk di komputer sebelah yang entah melakukan apa dibalik monitor itu. Tidak ada orang lain yang akan melakukannya kecuali cleaning service , dari sana semestinya Dia sudah tahu. Tetapi, ia selalu datang dengan sapaan khas basi dan menyebalkan itu.

Aku selalu berharap, besok paginya, ia datang tidak dengan kalimat itu lagi. Aku berharap ia tahu aku sudah selesai membaca satu Koran lokal, ketika ia tiba. Aku ingin ia sadar, sejak pagi aku sudah datang dari rumah, meskipun aku belum mandi. Namun harapan itu tidak pernah terwujud. Besok dan besoknya lagi, ia tetap datang membawa kalimat serupa.

Aku pernah berpikir sebaiknya Aku tidak datang ke kantor  terlalu pagi dan pulang di siang hari, sebaiknya aku datang sore hari saat Ia sudah pulang kerja. Tetapi, kemudian aku punya pikiran lain. Jika hal itu aku lakukan, ia akan mengatakan: tumben pagi tidak muncul! Itu bahkan lebih menyakitkan. Ah, biarlah ia menemukan sendiri kebenarannya. Intinya, aku sudah pulang dan selalu bangun pagi sekali—beberapa jam sebelum ia datang.

Aku pikir, ia mengatakan aku tidak  pulang ke Rumah tadi malam karena ia selalu menemukan rambutku masih acak-acakan. Tetapi, untuk apa aku mengingkari ketidaksukaanku kepada sisir cuma untuk perempuan itu, toh topi coklat yang tidak pernah lekang dari tas ku bisa menutupinya? Baju yang aku kenakan kemarin juga belum diganti. Ia selalu mendapati aku belum mandi pagi. Aku mengerti, pukul sepuluh adalah waktu yang sudah sangat telat untuk mandi pagi. Tetapi begitulah aku. Sebelum aku menuliskan sesuatu di blong ku, aku tidak akan sempat mandi.

Aku selalu merasa tidak punya alasan kenapa harus mandi lebih pagi. Aku selalu berpikir, banyak hal lain lebih penting daripada mandi pagi. Menulis, membaca Koran ini kan hal-hal ringan yang semestinya dilakukan di pagi hari. Membaca beberapa koran lokal. Atau menuliskan apa saja di komputer. Seharusnya ia sadar, ia selalu menemukan komputerku sudah bangun ketika ia datang.

Siang sampai sore, aku selalu sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan lain diluar sana, yang terkadang aku tidak peduli dan memilih untuk istirahat seharian di rumah sebelum kembali ke kantor di sore harinya. Seharusnya ia tahu aku tidak punya banyak waktu menulis, selain pada pagi hari ketika orang-orang belum datang, yang bisa merusak konsentrasi ku saat menulis. Sementara seribu ide selalu tertuang di pikiran ku setiap bangun pagi, seolah mimpi-mimpi yang menghampiri sepanjang malam. Berubah ide yang sepantasnya untuk di tuangkan.

Mungkin harapanku terlalu besar ia bisa menemukan kebenarannya. Ia sama sekali tidak mau belajar dari fakta-fakta yang bisa menunjukkan ia keliru. Ia seorang sarjana-seharusnya ia tahu hal-hal sederhana seperti itu, tetapi entahlah kapan bisa mendengar kata yang sedikit enak untuk di dengar darinya. (*)

Medan, Oktober 2012

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: