Beranda > Cerpen > Tunas

Tunas


KADANG-KADANG geli melihat tunas kecil yang baru pertama kali lihat sinar matahari: silau, terpukau.

Mungkin nanti setelah tunas itu tumbuh besar, dia pun akan tahu: matahari ternyata begitu jauh, tak terjangkau—dan hanya sinarnya yang didapat, bukan matahari itu sendiri. Dan kemudian diam-diam dia menyadari, bahwa dia melupakan satu hal yang mendasar:

Tanah. Tempat dia bermula—yang tak terlihat, yang selalu ada di bawah, yang tak pernah ingin muncul perkasa seperti gunung-gunung kokoh, namun kuat menopang segala yang ada di bumi, sekaligus bisa menumbuhkembangkan segala rupa bentuk bunga-bunga beserta warna-warni kelopaknya yang selalu merona.

Dan pada saat itu, mungkin tunas tidak lagi mengharap matahari atau sinarnya yang kadang membuat gelap mata. Mungkin, pada saat itu dia menyadari bahwa hidup harmoni bersama yang-telah-ada pun, bisa membuat segalanya terasa cukup, genap, dan indah.

Medan, Oktober 2012

Kategori:Cerpen Tag:
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: