Beranda > Cerpen > Alunan Piano Senja

Alunan Piano Senja


Sosok itu tak pernah berubah. Masih saja menusuk hatiku dengan kata-katanya yang lembut. Masih saja menatapku sehangat matahari di balik jendelanya yang nampak kemerahan.

Aku benci senyumnya. Apa dia tidak tahu kalau setiap kita melangkah di dunia ini pasti ada masalah? Kenapa dia bisa senyum seringan itu? Dia bahkan merasakan music dari tuts-tuts pianonya tanpa beban. Seakan-akan dia diciptakan untuk tidak menderita sama sekali.
Tapi lihat kaki itu. Satu kakinya jelas-jelas hilang ketika mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan seseorang dari lindasan sebuah mobil. Harusnya dia membenciku, memakiku, atau apapun yang bisa dilakukan, karena aku selalu menyerukan kata-kata itu teramat sering di liang teligannya.

Aku benci sekali senyumnya yang terlampau manis.
Air mata meleleh dalam balutan cahaya senja. Kaki bersimpuh tanda tak kuasa berdiri.
“Kamu kehilangan karirmu, sebenarnya sudah.” Sekarang mulutku melawan perintah.
“Justru aku mendapatkan segalanya. Karena dengan begini aku leluasa meciptakan lagu.” Katanya.
Aku langsung memeluknya bersama basah air mata.
“Kamu pikir ini seni? Hidupmu harusnya lebih indah.”
“Ya benarm, karenamu sudah indah sampai saat ini”, sahutnya dengan simpul..!!

Medan, 11 Oktober 2012

  1. 11 April 2013 pukul 6:14 AM

    We are a gaggle of volunteers and opening a brand new scheme in our community.
    Your website offered us with helpful info to work on.
    You’ve performed a formidable task and our entire group will be grateful to you.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: