Beranda > Cerpen > Secangkir Kopi di Pagi Hari

Secangkir Kopi di Pagi Hari


SELALU saja ada yang kutunggu-tunggu. Ya, sebuah moment ketika seperti mengulang jatuh cinta pertama kali seperti beberapa tahun lalu. Manakala perasaan berdentum-dentum menguarkan semacam debaran aneh yang tak tereja apa maknanya. Seperti cemburu meletup-letup, tetapi indah. Seperti rindu dengan kekasih yang telah lama melewatkan malam minggu berdua saja.

Bila rasa itu bergelinjang lincah, maka satu-satunya cara adalah menepi. Ya, memilih perlahan berjingkrak meninggalkan keriuhan, lalu sepasang mata ini akan menjelajah. Seperti pemburu dengan senapan angin di tangan kanan. Seperti pelukis yang rindu dengan kanvas dan kuas. Seperti pekerja kantoran yang mata dan jari-jemarinya tak pernah sejengkal berlalu dari tabung pintar yang kini dapat dijinjing dan cakap mengolah jutaan data. Aku seperti mereka yang menahan rasa cinta menahun. Sakit namun indah. Pilu tetapi nikmat. Melankolis sekaligus romantis. Setidaknya bagiku aroma secangkir kopi di pagi ini, mengisyaratkan semua ini.🙂

Selamat Pagi Medan…..!!!!!!!!!!!!

Medan, Oktober 2012

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: