Beranda > Opini > Akulturasi Batak Dengan Eropa

Akulturasi Batak Dengan Eropa


  • Akulturasi Batak dengan Eropa
  • oleh: Sulaiman Sitanggang

Photo : Togu Manata Naipospos
Tarian Tunggal Panaluan oleh sanggar tari pimpinan Morden Sitanggang

Apapun latar belakang event ini, siapapun yang terlibat, bagaimanapun manajemen organisasinya, bukan menjadi persoalan bagi saya, dan itu bukan bagian dari tema tulisan ini. Yang jelas saya melihat sebuah fenomena yang menjadi pertanda. Lantas apa yang terjadi disana? Setidaknya nama “Samosir Art” telah menggugah kehadiran saya kesana.

Tak banyak areal melandai bisa ditemui di tepian Danau Toba. Mengingat geografis vulkanik kaldera Toba yang didominasi lereng terjal, curam dan berbatu. Sebuah keindahan lain yang memacu adrenalin. Pasir Putih Parbaba adalah pengecualian. Ia telah menjelma menjadi sebuah kawasan wisata keluarga. Barangkali, sejenak kembali mengakrabi alam setelah lelah bertarung dengan aspal dan kemacetan lampu merah, tembok gedung tinggi yang penuh teror, arus modal uang dan segala tuntutan jaman yang serba modern dan mencekik ini. Pantai sederhana itu perlahan mulai didatangi masyarakat pulau dan turis-turis dari luar pulau.

Tak banyak yang bisa ditemukan di Pantai Pasir Putih, selain pelayanan yang sederhana jauh dari kesan wah dan elit. Sedikit saja impresi yang bisa dicukil disana. Jajanan kuliner yang tersaji jarang sekali berhasil merogoh kantong. Kerap, saya bingung juga bagaimana menghabiskan uang disana. Dan itu, diakui oleh banyak orang lain sembari berharap Pemda kelak akan melakukan pelatihan soft skill dan quality tourist area disana, kepada para pelaku wisata pantai pasir putih.

Bisakah warung rewot tak terawat itu digantikan dengan tiang-tiang berukir? Sanggupkah sajian kuliner disana mengetengahkan makanan khas pulau berbudaya batak? Mampukah service disana belajar menggunakan ciri khas yang memanfaatkan pakaian-pakaian tradisi, misalnya? Berbagai teori kemungkinan bisa saja menjadi wacana. Tentu saja, yang diperlukan masyarakat tak sekedar wacana dan gagasan.

Transportasi menuju kesana juga tak kalah mengkhawatirkan. Petunjuk dan tanda jalan seolah malu-malu menampakkan diri dan terkesan tak serius ditangani. Banyak tamu-tamu yang kelimpungan mencari alamat satu-satunya pantai berpasir yang dimiliki Pulau Samosir ini. Pertanyaan Kemana kemana, Dimana dimana, sudah terlalu biasa. Alam yang sempurna tidak dibarengi dengan Manusia yang indah, kerap berakhir tragis dan mengecewakan. Kita berharap transformasi mengalir ke butiran-butiran pasir disana. Sehingga setiap punggung yang berjemur, setiap jejak kaki yang melangkah disana akan mengalirkan inspirasi dan kegembiraan bagi para pelancong. Bahwa butiran-butiran pasir putih itu sanggup menjelma permata.

Disamping segala celah ketidaksempurnaan yang ada, tak mengurungkan niat untuk singgah dan hadir di pantai itu. Ketidakbecusan pengelolaan area itu masih kalah dibanding pesona alam yang dimiliki Tepian Danau Toba. Itu saja, sebuah pengalaman saat urat nadi menyatu bersama ombak-ombak kecil, impian yang belum teraih duduk bersama bercengkrama di bebatuan basah, melepas tatapan rindu ke arah Pusuk Buhit dan jalinan Bukit Barisan yang seolah berkata, “hei…kami pengawal rindu yang gagah”. Semua hal-hal yang taken for granted itu telah cukup menghilangkan segala gundah, resah, dan galau. Di Pulau Samosir, entah mengapa, aku selalu diliputi sebuah rasa yang selalu sulit kujelaskan, kerap membuatku biru. Ah, pulau biruku…

Sejak matahari menari-nari di permukaan air, di tepian berpasir itu sedang berlangsung kegiatan yang cukup aneh bagi penduduk setempat. Keanehan itu bernama workshop-workshop kesenian yang dipajang sepanjang pantai. Sepertinya pihak panitia sedang berupaya menabur cita rasa seni di tepian danau biru ini. Upaya yang patut diapresiasi. Ada yang berupa lukisan spiritual, ukiran oleh tangan dari masa silam, pahatan, tenunan dan pewarna alami, nyanyian rindu yang mendayu, tarian magis, petikan gitar yang menghanyutkan, lakon teatrikal di bawah pohon raksasa jabi-jabi, dan aksi-aksi kesenian lainnya.

Di kala senggang acara, tutur sapa dan tawa riang menghiasi langit biru Pasir Putih. Satu persatu sahabat-sahabat saling jabat tangan dan membentuk lingkaran di atas gelaran tikar. Pusuk Buhit turut tersenyum bangga menyaksikan pertemuan yang aneh itu. Betapa tidak, pada umumnya kebanyakan para sahabat ini belum pernah tatap muka. Melainkan, di pertemukan oleh jejaring sosial network yang mengepidemi penduduk bumi. Facebook.

Katakankah, Victoria seorang pelukis dan penggiat seni yang berasal dari daratan Russia, kini tinggal di Sipinggan tak jauh dari Ambarita. Dari Victoria mengalir sebuah cerita pengalaman spiritual magis, kisah pertemuan pelukis dengan Sang Dewi Danau Toba, oleh mitos rakyat Batak dinamai Boru Sangiang Naga. Sang dewi menginspirasinya untuk menorehkan sebuah lukisan yang berenergi sangat kuat. Victoria sampai tepar berhari-hari setelah menuntaskan lukisan itu. Sembari patah-patah dalam bahasa Indonesia, gemulai tangan dan jemari Victoria ikut bergerak seperti sedang menyajikan lukisan sang dewi kepada kami yang manut mendengar penuh perhatian.

Victoria beranggapan sosok imaji yang menampakkan diri kepadanya adalah puncak energi spiritual alam danau toba yang berhasil di aksesnya sebagai seorang seniman yang selalu berlatih mengendalikan frekuensi energi batin. Dan ia heran sekali, kenapa Sani (sebutan penulis untuk Sangiang Naga) justru datang menemuinya, dan bukannya menyapa penduduk pulau. Victoria menggambarkan Sani, adalah sosok keindahan, kemuliaan dan kehormatan berpadu menjadi satu.She is the most beautiful feeling i ever had, ucap Victoria dengan tatapan berkaca-kaca penuh ekspresi ketakjuban terhadap spiritual alam Toba. Come to my house at Sipinggan, everyone is welcome, let us practice art in this island, tutur Victoria selanjutnya sembari membuka buku-buku gambar hasil lomba lukis anak remaja yang diadakannya bersama panitia Samosir Art Festival.

Mark Kenyton Renner, seorang kelahiran Amerika, musikolog (peneliti gondang batak), mengiyakan semua yang diucapkan Victoria. Bahkan Mark yang sudah fasih berbahasa Batak dan Indonesia bisa memainkan hasapi, gondang, dan seruling bambu, mengenang perasaannya akan Sangiang Naga Laut. Musik adalah ekspresi untuk semua yang tak terbahasakan, ucapnya. Sayup-sayup dari loudspeaker panitia terdengar alunan gondang Sangiang Naga Laut yang menghanyutkan perasaan dalam sebuah situasi ketakjuban akan keindahan. Percakapan ini tanpa sengaja disertai alunan Gondang Sangiang Naga Laut. Monang Naipospos mengambil hasapi yang terletak tak jauh dari gelaran tikar diatas pasir di bawah rindang pohon jabi-jabi, lalu berduet petikan dengan Mark. Akulturasi Batak dan Eropa yang apik.

Ternyata, leluhur mengabadikan segenap puncak pencapaian pengetahuan dan perasaan manusia bersama alam, dalam alunan permainan musik tradisional Batak, Gondang, dan salah satunya berjudul Sangiang Naga Laut. Sani… hadirkan rasamu, aku yang dahaga akan kasih, mencarimu…

Tikar ini menjadi simpul pertemuan sahabat-sahabat. Lalu merapat ito Annette Siallagan, kelahiran Jerman yang kini mengembangkan wisata ressort di Toba Cottage dengan konsep Cultural Villa. Perempuan tangguh ini turut melepas sandal dan duduk bersila diantara sahabat-sahabat. Cerita dari sosok yang pernah tampil di acara Kick Andy sebagai perempuan yang menginspirasi ini mengalir saja, perihal betapa penduduk pulau sangat tidak menghormati alam. Pencemaran dimana-mana. Tak ada yang peduli, aku lelah sendiri berkoar-koar supaya kita semua menjaga kebersihan dan kualitas air Danau Toba, papar perempuan yang telah menjadi istri marga Silalahi itu.

Thompson Hs, seorang penggiat Opera Batak menjawab Annette dengan mengarahkan telunjuknya kepada sosok Pohon raksasa di belakang. Itu Jabi-jabi, adalah salah satu cara leluhur menjaga kelestarian Danau Toba, jelasnya seperti sedang bermain opera. Dari fungsi pohon yang menjaga aliran air resapan, menghindarkan abrasi tepi danau, akar yang kuat dan menjalar menghindarkan longsor. Ini yang semestinya ditanami kembali di sepanjang tepian Danau Toba. Dan konon, pohon ini disebut Pohon Bodhi oleh para petapa, sebab jabi-jabi adalah satu-satunya pohon yang tidak menghasilkan CO2. Siang dan malam ia bernafaskan O2. Sehingga ideal sebagai tempat bertapa, merenungkan perjalanan dan tujuan hidup, dan menggapai frekuensi menerima dan harmoni dengan alam.

Tapi, ada banyak dogma yang menuduh orang Batak memberhalakan pohon, katanya di dalam pohon ada begu, lalu disembah dengan penuh rasa ketakutan, bahkan sampai disuguhi sesajen makanan, papar seseorang.

Orang-orang yang duduk disana hanya tertawa, lalu seseorang menjawab, begitulah kalau manusia terlalu banyak makan dogma dan jarang membuka buku pelajaran ilmu pengetahuan. Menjadi dangkal, irasional, dan picik. Tawa kembali menghias langit Pasir Putih. Barangkali ya, begu yang ada di pohon jabi-jabi itu yang berbicara, supaya pohon-pohon sakratul alam itu ditebangi.

Kehadiran sosok-sosok sahabat kita ini telah memberi warna yang berbeda untuk Pulau Samosir. Tidak muluk-muluk jika kita berharap eksistensi mereka mengawali Babad Pencerahan untuk penduduk pulau. Saat Samosir menjelma menjadi kampung global. Mereka saja begitu mencintai alam Samosir, mengapa kita tidak? mengapa setelah kaku di dalam peti mati baru pulang? Epidemi rantau masih menjadi momok untuk penduduk pulau. Bahwasannya keberhasilan berada di ujung dunia. Sementara, negeri asal terlupakan.

Hingga ke Samosir Art Festival yang kedua. Dimana penduduk-penduduk pulau semakin banyak yang menghargai kesenian. Dengan seni, tercipta keseimbangan daya olah pikiran dan perasaan, spiritualitas pun hidup dan nyata.

Mungkin saja, manusia yang bertahta di langit itu adalah pencipta seni adiluhung. Mengapa manusia yang bertahta di bumi merendahkan dirinya dengan sikap-sikap yang kontra kebudayaan dan kesenian?

 

  1. 30 April 2013 pukul 12:23 PM

    It won’t be, I’m going to show, it’s the best way to do homage to Bahubali. Yet a decade ago. Call it mother’s intuition,
    the appliance of science or just a lucky guess, but the outline of your mouth
    is a skin disorder that causes patches of most effective skin lightening cream to appear on
    your skin.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: