Beranda > Cerita Kita, Cerpen > K E A N G K U H A N K U

K E A N G K U H A N K U


MALAM terasa tak bernyawa lagi baginya, betapa tidak..!! baru saja merebahkan tubuh di atas tikar  yang  dibentangkan diatas semen berpasir itu, kokokan Ayam kini sudah terdengar pertanda harus segera bangun dan meningalkan tempat Ia berada sebelum kembali diusir dengan siraman air seperti yang sudah-sudah. Dengan langkah yang tidak tetap Dia bangun lalu melipat kembali tikar yang baru saja Ia bentangkan itu dan memasukkanya kembali kedalam tas hitam disamping Ia berbaring. Sebatang  bambu tersandar di dinding dia raih kembali dan mengayunkan langkah menelusuri sudut kota itu kembali, telapak tangan kananya menyentuh kening mencoba menghagatkan tubuh dari dinginnya udara pagi.

Disepanjang Jalan dia berhenti disetiap tumpukan-tumpukan sampah yahg Ia lalui , menunduk sambil memeriksa setiap tumpukan-tumpukan itu degan bambu di tanganya dan bibirnya sedikit mengubar senyum menemukan apa yang dia cari, dia mengambilnya dan masukkan kedalam tas hitam yang dia bawa. “AKU YUDI, AKU INGIN PULANG”, tulisan tinta tebal yang tergantung dilehernya  Ia betulkan agar  nampak jelas terbaca orang yang megarahkan pandangan kearah dia beridiri, hampir 5 bulan sudah Ia  mengunakanya, tetapi kerinduannya mendegar seorang memangil namanya tidak juga terdegar, dengan penuh harapan Ia terus mengayunkan langkah mengikuti liku-liku jalanan didepanya .

Inilah sepenggal kisah Yudi anak rantau dari tanah tapanuli, pergi meningalkan kampung halaman tampa berita karena pemikiran dan ego hati.

************

Terik matahari terasa menyegat dan menyakiti kulit siang itu, suasana berubah ribut di lingkungan sekolah Aku berada, anak-anak berseragam putih abu-abu mulai keluar dari ruangan kelas, suasana hening yang baru saja aku rasakan kini berubah cepat mencadi ricuh oleh suara-suara mereka. Aku teringat akan beberapa tahun silam saat masih sekolah disana, begitu cepat rasanya berlalu. Kuraih kembali Laptop dari dalam tas dipunggunku dan menuju tempat duduk dibawan pohon cemara taman sekolah yang siang itu tidak ada seorangpun berkenan duduk disana, aku duduk bersandar pada pohon cemara itu dan mencoba membuka kembali tulisan-tulisan yang belum sempat kuselesaikan diantara file-file tersimpan di Laptobku. “Yudi, kamu Yudi kan?” seseorang menyapaku dari pinggir taman, aku mengenal dia. Ia Pak Nainggolan, Dia menjabat kepala sekolah sekarang disana mengantikan kepala sekolah terdahulu, tetapi dari cara Ia melihatku mungkin Ia tidaklagi siapa Aku. “Tidak pak, Aku Anju”, jawabku. Ia terlihat berpikir mengigat-ingat, “Ohh..!!! Maaf, saya kira Yudi”, sabungnya lagi sembari berlalu.

Aku jadi teringat akan nama yang dipanggil Pak Nainggolan barusan. Yudi, nama itu memang sangat sentral dilingkungan sekolah sejak kejadian kemarin, Dia adalah seorang Ketua OSIS yang sampai sekarang tidak diketahui keberadaanya, beberapa tahun silam Dia hilang dari kumpulan kelompok Pramuka saat menelusuri Hutan Tropis di Tapanuli, sehingga aku ingin menuliskan sesuatu tentang nama itu. Tetapi, aku tidak tahu banyak tentang nama itu dan beberapa tahun silam saya tidak mau tahu tentang itu. AKU YUDI..!! AKU INGIN PULANG, jari-jari tanganku mulai menari diatas keyboar laptop yang kuletakkan ditempat duduk mencoba menuliskan apa yang terlintas dipikiran mengenai nama tersebut yang baru terlintas.

******

AKU YUDI..!! AKU INGIN PULANG..!!!

YUDI adalah  salah satu siswa di SMA  Kecamatan Pangaribuan yang berada di Tapanuli Utara, hari itu sabtu  dimana di hari itu juga mereka selesai mengikuti Ujian Nasional yang telah berlansung selama empat hari, rasa suntuk dipikiran akan kerja keras untuk menghapal mati-matian dalam empat hari terahir akan segera berakhir, hal itu tergambarkan saat bel panjang pertanda waktu ujian telah usai siang itu di setiap ruangan maupun disekitar  ruangan sekolah. Papan alas ujian yang beberapa hari yang lalu mereka jaga kini dilemparkan jauh-jauh melayang keangkasa dan mendarat entah kemana tidak ada yang tahu.

Baju seragam putih abu-abu yang mereka jaga dan rawat selama hampir tiga tahun kini dibiarkan dinodai semprotan-semprotan cat dan tak luput akan tanda tangan pula. Tak lain degan Yudi, Yudi melompat-lompat kegirangan sambil melemparkan alas ujian yang tadi dia gunakan dengan suara keras dia bersorak “Horeeeeeeeeeeeeeee…!!!! segala perjuagan telah usaiii lae..!!” sembari menuju teman-temanya yang telah berkumpul di depan ruangan kelas, reaksi dari teman-teman Yudi juga tak keharuan, kejar-kejaran, saling pukul, menendang bahkan  saling melempar tetapi bukan berarti hari itu mereka sedang tauran antar geng disekolah seperti beberapa pekan yang lalu, melainkan mereka sedang bersukacita atas usainya Ujiang Nasional yang baru saja mereka ikuti.

Hari itu Yudi tidak langsung pulang ke rumah, mereka berkeliling dengan menaiki Motor.  Menyingahi beberapa tempat yang pernah dan yang belum pernah mereka singgahi sebelumnya, maklum Yudi adalah anak paling kecil dari 4 bersaudara saat ini ketiga saudaranya berada diluar kota untuk melanjutkan pendidikan masing-masing, sebagai anak yang paling kecil keinginanya selalu dituruti kedua orangtua Yudi termasuk Motor baru yang dia gunakan sekarang. Dengan seragam penuh coretan mereka berkeliling, bersorak dan bernyanyi bersama di tegah jalan hingga sore hari dan terahir singah pinggir sugai yang akrab mereka sebut PARTUOAN

Mulai dari foto bersama dan kegiatan yang lainya mereka lakukan disana sebagai tanda perpisahan, tempat yang biasanya penuh degan kata-kata kasar, jorok berubah suasana menjadi haru. Mereka duduk membentuk lingkarang sambil berpegangan tangan dan bernyanyi bersama-sama untuk beberapa saat mereka melakukanya, tak terlihat wajah-wajah garang seram seperti hari yang sudah-sudah kini wajah pemurah dan lembut terpancar diantara mereka. Terahir mereka saling bersalaman dan bersorak bersama “Sampai jumpa teman” degan kompak lalu membubarkan diri meningalkan tempat itu.

Jauh dari sana orang tua Yudi sudah menunggu di depan rumah, “tett..!! tett..!!” suara itu berulang dua kali, spontan wanita paruh baya sudah terlihat berdiri di depan rumah degan kedua tanganya diletakkan dipinggang dan jam didinding menunjuk 08.30. “Yudi dari mana saja kau”,  Yudi belum turun dan memarkirkan motor saat suara itu terdegar dengan keras ditelinganya. Yudi turun dan masuk kerumah tampa mempedulikan wanita  paruh baya yang  memangil itu, tampa melepas sepatu Yudi melompat ke sofa di rumah sambil berbaring. “Kenapa degan bajumu, kamu habis berantam lagi Yudi?”,  “tidak bu” jawab Yudi tampa melihat wajah ibu yang masih pucat, “lantas kenapa..” “Yudi habis ikuti acara perpisahan bu, inikah hari terahir kami UN, besok kami mana jumpa lagi bu”,  “jadi apa hubunganya degan bajumu ini”, lanjut ibu sembari menarik seragam yang masih dia gunakan. “kenang-kenagan bu..!!” jawab yudi degan singkat.

Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah lalu Anaknya itu, dari raut wajahnya tergambar ketidak pahaman tentang perlakukan mereka berikan  kepada Yudi, “Aku ingin mengikuti test SMPTN, kawanku juga mengikutinya aku ingin seperti mereka”, Yudi seperti mengungkapkan kata-kata yang lama sudah dia pendam selama ini. Ibu yang masih berdiri dan keheranan melihat tingkahlaku Yudi menghampiri dan mengusap kepala Yudi, “itu yang ibu harapkan nak, sebelum kamu bilang begini kami sudah merencanakan itu”,  sambungnya lagi, “baguslah bu” balas yudi sambil berlalu masuk ke dalam kamar.

Pengumuman hasil Ujian Nasional SMA diumumkan 3 Minggu lagi, sambil menunggu hasil UN tersebut keluar Yudi minta izin kepada Ibunya untuk mengikuti les tambahan persiapan SMPTN, Ibu menyetujui permintaan tersebut dan mengizinkan Yudi untuk pergi mingikutinya,  sesampai di Medan Yudi sudah ditunggu  Reni kakaknya diterminal kedatangan Bus dari kampung. Dengan tas besar di punggun Yudi turun dari bus,  melihat itu degan penuh tawa Reni menyambut Yudi, “hahahah kamu mau pindah atau apa nih” teriak Reni,  “untuk sementara kak, aku pindah dulu”, jawab yudi sambil mendorongkan bungkusan didalam plastik hitam kearah Reni,  “dari mama” lanjut Yudi.  Mereka begegas meningalkan terminal bus tersebut degan menumpangi taxi yang sudah dipesan Reni sebemnya untuk menuju rumah kontrakan Reni yang tak jauh dari terminal tersebut.

“Kakak..!! kakak punya mobil udah?” dengan senyum Reni menjawab pertanyaan adinya itu, ” Yudi..!! Yudi..!! kita cuman numpang doang..!! bentar nyampe dirumah juga sudah ditingalin” jawab Reni sambil mengatakan kepada sopir taxi tersebut untuk diantarkan ketempat tujuan. Taxi  bergerak meningalkan terminal bus, diperjalanan Reni di sodori puluhan pertanyaan oleh adiknya mulai dari bangunan-bangunan tinggi di pingiran jalan itu, lampu merah saat mereka berhenti sampai pada anak-anak jalanan yang beryanyi di tegah lampu merah tersebut.

Maklum saja dikampung Yudi belum pernah menemukan hal-hal seperti itu, bukan hanya Reni yang tertawa menjawab pertanyaan adinya itu, supir taxi yang biasanya hanya menayakan tempat kemana diantarkan  ikut menjawab dan tertawa karena pertanyaan Yudi dan sesekali ikut menjawab setiap pertanyaan Yudi, “ok…!!! stop pak, di depan rumah itu” Reni sambil menunjuk rumah didepan mereka ketika taxi sudah mendekati rumah yang Reni maksut.

Beberapa hari setelah Yudi di mendaftar untuk mengikuti les tambahan di salah satu Bimbingan Belajar, Yudi mengikutinya degan baik, seperti biasanya di rumah maupun setelah pulang dari tempat dia bimbingan dia selalu mengulangi kembali, sedangkan Reni kakanya kuliah dan pulang kerumah sore hari, sehingga mereka sagat jarang untuk bersama. Kegiatan itu terus menerus Yudi lakukan selama mengikuti bimbingan, kadang-kadang dia membawa teman kenalan dari tempat dia bimbingan kerumah untuk belajar bersama, pada minggu ketiga dimana hari itu pengumuman hasil UN dari sekolah.

Yudi pulang bimbingan mendapati Reni kakanya sedang duduk di pintu depan rumah, “lohh..!! kakak tidak kuliah? tidak seperti biasanya”,  sapa Yudi sembari memukul-mukul pundak kakanya itu,  tetapi Reni diam saja tampa mempedulikan Yudi, ” heloo..!! ada apa ini, tidak seperti biasanya”,  Yudi mencoba lewat dari depan Reni sambil melompati kaki Reni yang dibentangkan di pintu masuk rumah itu. “Gak sopan”, jawab Reni,  “kenapa duduk disana kan itu jalan”, jawab Yudi sambil berlalu. “Yudi..!!! sini dulu, ada kabar untukmu dari kampung..!!” Yudi langsung saja diam tidak melanjutkan langkahnya, tubuhnya gemetar dan jantungya mulai berdetak kencang. Kemudian dia berbalik dan menghampiri Reni.

Yudi hanya menunduk dan tidak berani menatap Reni kakanya, ” Yudi…!! coba lihat kakak”  Yudi semakin menunduk dan berdiri seolah di hukum oleh kakanya itu. “Kata Ibu…!! kamu, Reni berdiri dan tidak melanjutkannya lalu berdiri melangkah meningalkan Yudi, masih berapa dibelakang Yudi, Reni yang sambil berjalan meningalkanya melanjutkanya itu, “Kata Ibu Kamu..!! kamu lulus.” Sontak saja Yudi jatuh seolah Berlutut, Reni yang berdiri dibelakangya menahan tawa sambil memengangi perutnya sendiri melihatnya. Sedangkan Yudi sendiri diam dan saat Reni menghampiri dan mengangkat bahu Yudi, teryata Yudi menangis sesunggukan. “kamu lulus yudi..!!! lanjut Reni menyakinkan, Yudi menghapus ari matanya dan melompat-lompat diruangan itu sesekali dia kepalkan tanganya sembari, “yes..!! yes..!! yes..”, terdegar jelas dari bibirnya.

Selang beberapa minggu, Yudi akan mengikuti ujian kembali,  kali ini dia mempersiabkanya degan begitu matang, maklum saja ujian ini menjadi penentu baginya untuk kuliah disalah satu universitas yang dia damba-dambakan, bimbingan belajar juga sudah usai,  walau beberapa hasil test yang dia ikuti selama bimbingan tidak sesuai degan harapan tetapi dia tetap percaya dia mampu untuk mengikuti ujian SMPTN esok hari, siang itu Yudi ditemani Reni pergi ke kampus untuk melihat ruangan ujian bertepatan juga lokasi Yudi ujian besok disana,  hampir beberapa jam mereka mencarinya, “huh..!! akhirnya” kata Reni saat menemukan ruangan yang mereka cari maklum Reni yang mencari ruangan tersebut karen Yudi belum tahu persis kampus itu. “besok kamu ujianya disini, ini ruanganmu dan itu mejamu ujian” Renipun mencoba menjelaskanya sembari menuntukkan jalan menuju ruangan itu. “besok kakak tidak bisa mengatarkanmu karena kakak kerja” lanjut Reni, “siap kak..!! bereslah itu” jawab Yudi sambil menuju meja yang menjadi tempat ujianya.

Esok hari Yudi tampa kesulitan untuk mencari ruangan tersebut, selama dua hari dia mengikuti semua ujian degan baik.  Saat ujian selesai, tidak seperti hari kemarin waktu UN berahir, tidak ada yang berkumpul untuk melakukan perpisahan seperti yang pernah mereka lakukan, semua pulang satu per satu tampa banyak yang permisi kepada sesama. Termasuk Yudi, dia langsung beranjak dari tempat duduk dan menumpangi angkutan kota menuju rumah.

Dirumah, Reni sudah menungu dan sudah mempersiapkan barang-barang yang akan Yudi bawa pulang maklum hari itu juga Yudi harus pulang ke kampung. Setelah istirahat untuk sejenak, merekapun bergegas meningalkan rumah menuju terminal bus ke kampung, “Yudi..!! berikan ini sama Mama yah..!!!”, “beres boss..!!” jawab Yudi sambil masuk kedalam Bus. ” Nah..!! ini makananmu untuk dijalan” Reni menyodorkan bungkusan dalam plastik kearah Yudi. Buspun berlalu dan Reni bergegas pulang meningalkan terminal tersebut.

Suasana mulai berubah saat pengumuman SMPTN keluar, siang itu wajah Yudi berubah buram saat mengangkat telepon dari Reni kakaknya itu. “Haloo..!!” terdegar Suara Reni dari ujung Telepon, “Bagaimana kak, sudah dapat pengumuman”, Yudi bertanya kepada kakanya itu. ” Ya sudah dek, tetapi adek tidak Lulus,” lancur Reni. Yudi sempat memastikanya kembali kepada kakanya itu, “Kakak, bercanda kan?” sambung Yudi, tetapi Reni memberikan jawaban yang sama. Yudi tidak lagi melanjutkan pembicaranya dia matikan Telpon itu dan pergi meningalkan Ibunya yang menemaninya dari tadi duduk sebelum Reni Menelpon.

“Pokoknya aku tidak mau kuliah ditempat itu”, terdengar pecahan piring dari arah suara itu berada. Taklama setelah kejadian itu seorang pemuda bertubuh tegak muncul dari bilik pintu yang sedik terbuka dan membantingkan pintu itu dengan keras. “Kalau kalian tidak bisa mengurus aku kuliah disana, aku akan pergi dari sini”. Orang-orang  yang saat itu melintas dari depan rumah menghentikan langkah dan memandangi Yudi yang menggas Motornya degan kencang sembari meningalkan Mereka.”Ada apa bu”, seorang dari pejalan kali itu mencoba bertanya pada seorang wanita paruh baya yang berlari dari dalam rumah, “Tidak ada apa-apa bu” sembari memangil-mangil nama anakya tadi.

Tetapi sudah terlanjur, Yudi sudah menghilang diujung jalan bersama Motor yang dia tunggangi.  Sejak itu Yudi tidak pernah kembali lagi kerumah dan tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan Yudi tersebut, Yudi pergi meningalkan Rumah karena merasa malu kepada teman-temanya  yang kebanyakan lulus saat SMPTN, sebenarnya ibu mengizinkan Ia kuliah di tempat lain tetapi Yudi tidak menerimanya dan memaksa Ibunya mengurus Ia untuk kuliah di Kampus yang Ia damba-dambakan tersebut.

ibuYudi..!!! Yudi..!! Yudi…!!!

“Bu..!! sadar bu..!! sadar..!!”, “Ibu mimpi Yudi lagi”, Malam itu ibu kembali dibangunkan Reni kakak Yudi yang sekarang menemaninya dikampung setelah kepergian Yudi. “Yudi sudah pulang nak..!!” ” belum buk” jawab Reni sambil membantu ibunya untuk duduk dan memberikan segelas air putih, “sudahlah bu, ibu jangan terlalu memikirkanya nanti penyakit ibu makin parah loh” kata Reni sambil mengurut-urut punggung ibunya itu.

Sudah 1 bulan Redi dikampung  dan sudah hampir 1 bulan juga dia meningalkan kuliahnya yang sudah memasuki semester akhir, Ibu sebenarya tidak mengharapkan Reni berlama-lama dikampung supaya tidak ketingalan kuliahnya, tetapi melihat kesehatan ibunya yang belum juga membaik Reni mengurungkan niat meningalkanya sendiri dikampung. “Ren..!! kapan kamu kembali kuliah” ,  sambil meminta tolong kepada Reni untuk menuntunya berjalan. “Aku masih libur bu”, jawab Reni, padahal waktu bibur sudah selesai, Reni terpaska berbohong kepada ibunya karena Ia melihat ibu tidak juga sembuh-sembuh.

Seperti biasa di sore hari, setelah Reni siap beres-beres di rumah dia harus menemani ibu duduk di taman samping rumah mereka, sejak kepergian Yudi ibu selalu Meminta diantarkan untuk duduk disana sendiri ataupun ditemani Reni, maklum taman kecil itu dirancang oleh Yudi sewaktu dia masih dikampung, dan kemarin Ibu dan Yudi selalu duduk bersama disana saat sore hari sudah tiba. “Reni..!! Reni antarkan ibu sebentar ketempat itu”, Reni tampa bertanya lagi sudah tahu kemana maksud ibu akan dihantarkan. Renipun degan segera menghampiri ibu lalu menuntunnya berjalan menuju taman itu.

Sesampai disana Mereka tak kelihatan banyak bicara, pandangan ibu terlihat kosong  menelusuri tiap-tiap sudut taman itu. Kalau sudah seperti itu  Reni yang biasanya tidak membiarkan ibunya untuk diam kini ikut bertingkah seperti yang ibunya lakukan, Diam sembari memandangi ibunya dan pikiranya kembali teringat akan suasana duduk bersama adenya Yudi ditempat itu. “Yudi..!! dimana kamu sekarang, tak ada niatkah untuk melihat ibu”, gumang Reni berharap Yudi segera pulang untuk melihat keadaan Ibunya sekarang.

Tanda-tanda Malam sudah tergambar diawan saat Reni mengalihkan pandaganya dari sudut-sudut dedaunan pohon diatasnya, yang dari taadi dia pandangi saat mengigat-ingat kembali saat bersama dengan Yudi, Ibu  juga masih seperti yang tadi menjelajahi setiap sudut-sudut taman itu dan sesekali menegak minuman yang ada digenggamanya. “Bu..!!! sudah hampir malam, ayo masuk kerumah” Reni mencoba menyapa Ibu yang duduk disampingya, “sebentar lagi Ren..!! aku masih merasa enak disini” jawab ibu sembari menyuruh Reni untuk menambah minuman yang ada digengamanya lalu Reni kembali ketempat duduk dia berada sebelumnya.

“Reni..!!! sudahkah kamu mencoba menghubungi nomor adekmu itu?” “nomornya tak juga aktif-aktif bu” jawab Reni. Sudah berulang kali Reni menghubuni normor Yudi tetapi  momor itu memang sudah tidak aktif lagi, sore itu Reni mencoba menghubunginya lagi sambil menunjukkanya ke arah Ibu, “dengar bu..!! belum aktif nomornya bu”, lanjut Reni sembari mematikanya. Sore itu juga Reni mencoba mengirimkan kembali pesan singkat mengenai keberadaan adinya itu, “sudah kukirimkan lagi bu, mudah-mudahnya nanti kalau sudah aktif nomornya dia langsung membancaya” kata Reni kepada Ibu berharap Yudi segera pulang untuk melihat Ibu yang tidak kunjung sembuh dari sakit yang dia derita semenjak kepergian Yudi tampa sepengetahuan mereka.

Jauh dari sana Yudi terus mengayunkan langkah mengikuti liku-liku jalanan, badanya kini semakin kurus dan kering ditambah baju yang Ia kenakan dan tas hitam yang melekat dipunggunya membuat Ia semakin Kumal untuk dilihat, uang dari Motor dan Hp yang Ia jual kini tidak lagi meninggalkan 1 recehan didalam saku yang membuat Ia tergantung pada tumupukan-tumpukan sampah disepanjang jalan itu sembari  tulisan hitam hitam “AKU YUDI..!! AKU INGIN PULANG” dia betulkan sambil berjalan berharap segera sampai kerumah dan melihat wajah Ibunya yang Ia tingalkan beberapa Bulan yang lalu, tetapi hal tersebut tidaklah mungkin melihat dimana Ia sekarang berada,  dimana Ia berada sekarang saja dia tidak mengetahuinya dia hanya terus menganyunkan langkah mengikuti setiap jalan-jalan yang terpampang di depanya.(*)

*****

“Sore…!!!, menunggu siapa” , suara yang tidak asing lagi bagiku terdengar  dari pinggir taman aku berada.  Ia Pak Naninggolan yang tadi menyapaku ditempat itu. “sebentar lagi pak, nunggu adek belum keluar”, jawabku sembari mengalihkan pandanganku dari layar laptob dan menghentikannya. Ia menghampiriku, “Aku ingat sekarang, kamu Anju anak XII2 dulu kan?” lanjutnya dan duduk dibangku taman tempat aku berada. Mungkin Ia mengingatku karena tingkah lakuku sewaktu sekolah disana dulu yang selalu berusan dengannya karena masalah. “Bagaimana sekarang, masihkah sama seperti dahulu”, lanjutnya sambil memukul-mukulkan pundakku dengan tangan kananya, “tidaklah pak” jawabku sambil tertawa.

Sore itu kami duduk berdua disana, sambil mengunggu adekku yang belum juga keluar dari ruangan kelas Pak Nainggolan banyak berbagi cerita yang terkadang dibumbui degan nasehat-nasehat kearahku, aku seyum saja mendengar cerita Pak Nainggolan tersebut, betapa tidak mengingat beberapa tahun silam kakiku sudah seperti santapan sehari-hari sebatang bambu kecil yang Ia bawa-bawa sampai sekarang, “Ranting Bambu Penghakiman” lanjutku melihat bambu kecil ditangan Pak Nainggolan tersebut, Ia hanya tertawa dan sesekali katakan “Pir dope huroa bitismu” hahahhahahaha . (Anju MS)

By: Anju M Sinaga

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: