Beranda > Cerita Kita > Resah Yang Tak Berujung

Resah Yang Tak Berujung


Tulisan saya kali ini saya berikan judul “RESAH YANG TAK BERUJUNG” buat teman-teman selahkan membacanya, dan semoga terhibur dengan tulisan ini.

“RESAH YANG TAK BERUJUNG”
Dengan tatapan kosong engkau duduk bersila terkadang menunduk,  mengusap kening lalu bertopang dagu. Diam dan membisu bukanlah  sifatmu, tetapi saat ini aku menemukanya dalam dirimu , kenapa engkau jadi seperti ini? tidakkah engkau melihat aku yang berdiri disini.

SORE itu aku ingin sekali mengajakmu bicara, karena esok pagi  aku akan kembali  ke kota Medan, berulang kali aku lewat dari depan ruangan itu untuk memastikan apakah engaku bisa untuk ditemani bicara. Engkau sepertinya tidak mempedulikan kedatanganku dan sedikit pandanganpun tidak engkau arahkan kepadaku sehingga aku mengurungkan niat sore itu untuk mengajakmu bicara. “Nak..!! kapan engkau pulang”. Ibu menyambangiku yang beridi dekat jendela dari tadi setelah memutuskan untuk tidak menganggu ayah yang lagi duduk di ruang tamu. Besok pagi aku harus berangkat bu, dan malamnya aku harus masuk kerja bu.” “bagaimana mungkin engkau bisa mengejarnya sampai esok hari, sedangkan perjalanan sampai ke Medan memakan banyak waktu Nank…!!!.”, “Ia bu, mudah-mudahan saja besok terkejar, aku sudah berjanji untuk masuk kerja besok malam bu, walapun besok terlambat aku harus masuk kerja bu.” “ya sudah kalau memang kamu harus masuk kerja besok, tetapi bisa saja kamu telepon mereka meminta izin untuk tidak masuk kerja besok malam, agar besok kamu tidak terburu-buru dijalan, sudah bereskan baju yang akan kau bawa.” Ibu berlalu meninggalkanku di dekat jendela dapur itu.

Aku mengerti apa yang ibu rasakan, sebenarnya mereka masih menginginkanku berada di sini untuk beberapa hari lagi. Dari sorot matanya menatabku aku  mengerti apa yang ibu inginkan, melihat suasana berduka yang masih menyelimuti keluargaku wajar saja kalau ibu tidak menginginkanku pergi. Tetapi kemarin aku hanya menitipka pesan izin 3 hari kerja kepada kawan untuk disampaikan pada pimpinan , hari ini sudah hari kedua aku berlibur. “Bu..!!, Bu..!! Bu..!!”,  aku ingin menjelaskanya kembali sama itu tetapi dia tidak juga mendegar sahutanku. Sehingga aku menyusulnya keruang tengah, ternyata mereka lagi berbincang dengan tiga orang tamu yang tidak asing lagi dimataku tetapi sulit untuk mengenalinya. Aku bermasksud berbalik arah dan tidak menggangu mereka dulu, saat berbik ibu ternyata mengetahui kedatangaku sehingga dia memanggilku mendekat. “Nju…!! mau kemana..!! kemarilah dulu salam dulu mereka ini, mereka ini pamanmu dari kampung seberang.” lantas aku kembali berbalik dan menjabat tangan mereka. “Kami turut berduka cita.” Satu persatu dari mereka mengatakanya saat aku menjabat tanganya. “Terimaksih paman.” Aku ingin beranjak tetapi ibu menghalangiku dan menyuruhku duduk bersama-sama dengan mereka.

Aku duduk disamping ibuku sambil memperhatikan percakapan mereka yang sesekali ditujukan kepadaku yang diam saja dan melempar sedikit senyum saat mereka membicarakanku, kulihat ayah juga tidak seperti biasanya, ayah lebih banyak diam sekarang dia hanya menjawab setiap pertanyaan yang ditujukan pamanku kepadanya lainya ibuku yang lebih banyak bicara. Aku jadi sedih melihat sifat ayah sekarang, memang aku sadari kami lebih dekat sama ibu selama ini dibanding bersama ayah dan aku sangat takut waktu ayah marah saat kami masih kecil jangankan melihat sorotan matanya menatap wajahnya saja aku terkadang segan.Tetapi hari ini sangat lain, aku menemukan gambaran yang membuatku ingin selalu dekat bersamanya, terkadang aku meneteskan air mata saat mengigat ayah. “Ayah, ayah istirahatlah dulu, aku dan ibu saja yang menemani papan disini”, “ya lae, istrahatlah lae dulu” paman pun menyahuti omonganku. “tidak apa-apa, aku tidak merasa sakit” ayahku memperbetul sandaranya di kursi ruang tamu itu. Aku mengerti apa yang ayah alami, sebenarya dia bukan lelah, tetapi ayah  belum bisa terima kepergian abangku 2 hari yang lalu. Sudah bayak yang memberikan kata-kata penghiburan bagi keluarga kami, dari sahabat, keluarga dan teman-teman lainya tetapi belum jug bisa menhibur hati ayah, sedangkah ayah sebagai orang tua pasti merasa terpukul karena itu wajar saja dia masih seprti sekarang.

Sore itupun berlalu tampa sedikit reancanaku untuk becara bersama ayah terlakasana, di malam hari keluarga banyak berkumpul dan tidur dirumah sehingga waktuku untuk bersama ayah pasti tidak ada, akhirnya aku bangkit berdiri dari ruang tamu yang sudah mulai kembali rame itu, aku perti kekamar dan memasukkan beberapa pakaian untuk dibawa pulang esok hari. “Nnju..!! sudah kamu bereskan baju-baju kamu untuk dibawa esok pagi.” ibu menghapiriku mungkin ia tadi melihatku masuk kedalam kamar, “ia bu, ini aku lagi beres-beres”, sudah bawalah ini sebagian untukmu, siapalagi yang akan memakai ini disini nanti”, ibu memberikan beberapa baju dan celana kepadaku. Baju dan celana itu adalah penginggalan abangku, ya benar tak ada lagi nanti yang memakai baju-baju itu. “bereskanlah dulu yah, ibu ke ruang tengan dulu keluarga sudah datang itu, kamu juga cepat datang nanti, besok kamu pulang jadi malam ini kita harus bicara-bicara dulu sama mereka.” ibupun berlalu meninggalkanku dikamar itu.

Aku kembali tertengun sejenak dan mengusab beberapa helai baju yang diberikan ibu barusan, masih ingat betul akan baju itu 2 bulan yang lalu dimana baju ini di pakai abangku saat kami merayakan Natal, tidak berapa lama aku berdiri disana yang masih memegang baju kotak-kotak itu,  suara pintu kamar itu terbuka yang menyadarkanku dari lamunanku. “Nak..!! kata ibu besok kamu harus pulang, sudah kau siapkan barang-barang yang akan kamu bawa kan?, sekalian bawa sebagian baju abangmu itu, biarlah kamu yang memakinya disana”, ternyata ayah yang datang. “Ia ayah, ini sudah aku siapkan bajunya” aku menunjuk baju itu kepada ayah. “ya sudah, kalau sudah siap, datang ke ruang tengah yah, ayah mau istrahat dulu sebentar.” Ayahkupun beranjak naik ketempat tidur disamping aku berdiri. Aku masih merapikan baju-baju yang akan aku bawa esok hari sedangkan ayah sudah tertidur, “yah..!! hp ayah bunyi” ayahku tidak lagi menyahut dan tidak mendegar hp yang diletakkan dekat bantal ia tidur lantas aku mengambil hp itu dan mematikanya agar tidak menggangu tidur ayah dan meletakkanya kembali ketempat semula.

Sore itu sekitar pukul 18.30 aku beranjak dari ruangan kamar itu dan menghampiri ibu dan keluarga yang dari tadi asyik berbincang diruang tengah, aku pakaikan kembali jaket hitang, sarung tangan  yang sering kupakaikan, “permisi bu” dengan menunduk aku meminta permisi lewat dari depan seorang wanita tua waktu itu dudup pas didepan pintu kamar, wanita itu hanya membalasku dengan sedikit senyuman dan memberikan jalan untuk lewat. Aku melangkah ketengah ruangan itu menghapiri itu, disana sudah ibu sediakan bantal dan selimut untukku, aku mengambilnya dan duduk disamping ibu. “Ayahmu tidur dikamar?” “Ia bu,  ayah istrahat dikamar” aku menjawab ibu sambil merebahkan tubuhku untuk tidur. “bang..!!! abangkan jurusan komputer, aku ada tugas bang tetapi aku belum gerti, bantu ngerjain tugaskulah bang.” ia adalah adekku yang paling kecil yang saat ini duduk dibangku sekolah SMA kelas 1, kami ada tujuh bersaudara diatasku ada 3 orang laki-laki, dan dibawahku ada tiga orang cewek, sedangkan aku anak ke-4. Tetapi sekarang kami tinggal 6 orang anak ke-3 telah meninggal kemarin karena itu kami semua pulang kekampung saat ini. “ia abangmu rupanya…!!, kasihlah biar dia kerjain sebentar”, lantas aku bangun lagi mendegar ibu bicara demikian, “ya sudah mari sini biar abang kerjain sebentar”, adekkupun memberikan buku itu kepadaku.

Tugas-tugas di dalam buku itu mudah saja saya jawab dan mengembalikanya sama dia, “sudah selesai bang..!!! cepat kali, betulnya ini?” dengan nada agak heran adekku menerima buku itu dari tanganku, “sudahlah yakin saja, adek berikan tadi samu berarti kamu sudah yakin dong tentang apa yang jawabanku dibuku itu.” dia tersenyum saja mendegarnya lalu beranjak meninggalkan kami diruang tengah itu. Aku kembali membaringkan tubuhku, padahal cuaca diluar masih kelihatan terang tetapi karena dinginnya aku terpaksa melakukanya, sedangkan ibu masih serius berbincang dengan keluarga yang datang terkadang aku ikut tertawa saat mereka berbicara aneh dan lucu, sedangkan abang dan adikku mereka lebih memilih duduk berbincang didapur sambil menyiapkan makanan malam. Pikiranku kembali kepada ayah, raut wajah ayah itu teramat jelas untuk aku gambarkan, saat ayah meneteskan ari mata kemarin melepas kepergian abangku terkadang membuatku bertambah sedih, sekarang aku sudah lebih tengan melihat ibu, walau kemarin pagi ibu masih menangis saat bangun pagi tetapi itu sebentar saja.

Sekarang ibu mulai tegar kembali, kuperhatikan ibuku saat ia berbincang dengan keluarga disana,  raut sedih diwajahnya kini mulai luntur walapun suaranya masih serak. Lain dengan ayahku,  dari kemarin sampai saat ini 2 hari sudah aku dirumah setelah datang dari Medan ayah lebih banyak diam dan menyendiri, walapun dia duduk bersama-sama dengan kami dia tidak banyak bicara lagi, tidak sadar air mataku menetes dengan sigap aku menghapusnya, ternyata ibu melihatku. Dia hanya diam saja memandangiku, tetapi bola matanya mulai berkaca-kaca. “Bu..!! makanlah kita sebentar, kami sudah sediakan ini”,  adekku memanggil kami dari pintu dapur, lantas aku bangun dan mengajak ibu, bola matanya kini tidak lagi berkaca-kaca dan tak air mata yang tadi mulai lerlihat tidak sempat untuk menetes. “Bangunkanlah ayahmu dulu.” akupun beranjak kembali kedalam kamar, sedangkan ibu berlalu bersama keluargaku lainya ke ruang makan. Aku mau membangunkan ayah, kubuka pintu kamar itu dengan pelan, kulihat ayah masih tertidur kuperhatikan wajahnya ada butiran-butiran air mata menetes dipipinya, “ayah…~~~!! sampai kapan ayah seperti ini, aku besok akan kembali, aku ingin melihatmu seperti yang dulu sebelum aku kembali”, aku tidak tahu ayah mendegarkan ucapku itu, yang aku tahu dia tertidur. Aku tidak membangunkan ayah tetapi aku malah berdiri disampingya dan menatab wajah ayah yang masih diliputi bitiran-butiran air mata dipipinya.

“Bang…!!!, mereka sudah menunggu tuh, kalau ayah masih istrahat biarkanlah dulu,” aku hanya menganggukan kepala mendegar adekku yang memanggil dari pintu kamar itu tampa mengarahkan wajahku kepadanya, aku tidak tahu dia masih berdiri disana atau sudah pergi saat aku menghapus air mataku kembali, “Ayah…!!! yah..!!! makan dulu, dari tadi siang ayah belum makan..!!” aku mengulangya untuk beberapa kali sambil mengoyang-goyang tubuh ayah,  ternyata ayah mendegarnya dan ia langsung saja bangun dan hanya menjawabku “ya”, lalu berlalu meninggalku dikamar itu.  Akupun beranjak meingikuti ayah mengingalkan kamar itu,  di ruangan makan aku selalu memperhatikan ayah raut wajahnya  masih tetap sama dan tidak sedikitpun mengubar senyum kepada kami. Selesai makan ia beranjak keruang tengah dan duduk disana, ibuku mungkin mengerti apa yang aku pikirkan. “Njuu..!! sudah nanti aku yang akan katakan sama bapak kamu”, tidak tahu aku apa maksud ibu tetapi aku mengangukkan kepala saja mendegarnya.

Malam itu sekitar pukul 21. 30 saat kami semua berkumpul diruang tengah dan sebagian sudah  mulai tertidur, aku mendekati ayah yang masih duduk. “Ayah, besok aku akan kembali kemedan, Aku ingin ayah jangan seperti ini terus, kami ingin melihat ayah seperti yang dulu saat  kami akan kembali dari sini esok”, ternyata ibuku belum tertidru walau sudah tiduran disamping kami duduk dan mendegar apa yang aku katakan. “ Ayah baik-baik saja Nju..!! yang penting kalian anak-anakku kapanpun kuberangkatkan harus meninggalkan kami disini dengan baik, sehat-sehat kalian disana nanti” ayah tidak ada bersedih, tidak, ayah cuman memikirkan kalian anak-anakku”. Akhirnya aku mendegarkan apa yang sedang dia pikirkan yang membuat dia seperti ini, walapun jawaban itu belum bisa memuaskan bagiku tetapi sedikit aku mulai lega. “Ayah jangan lagi bersedih ya” “ ia nak” ayahkupun merebahkan tubuhnya untuk tidur. Aku masih duduk disana saat mereka tertidur lelap, aku berpikir sendiri menerka bagaimana esok hari melihat mereka masih seperti ini. “tidurlah, besok kamu harus pagi-pagi bangun loh..!!” sebuah sms masuk ke hpku yang dikirimkan abangku dari tempat ia berbaring, mungkin ia tidak ingin menggaggu orang yang sudah tidur disampingya makanya ia mengatakanya lewat sms kepadaku.

Pagi menjelang sekitar pukul 07.00 mobil yang akan kutumpangi berangkat ke medan sudah berada didepan rumah, kusalami  semua keluarga disana dan minta pamit kepada mereka, “opung aku pamit ya, doakan kami dijalan” opungku sembari memelukku “ia, jangan ingat-ingant lagi yang lalu” pesan opungku kepadaku, kusalami abang adekku sambil berpesan pamit sama mereka juga, “bu aku brangkat dulu”, ibuku merangkulku dengan kuat dipeluknya, sambil mencium kedua pipiku, aku sedih dan air mataku ingin sekali menetes, tetapi aku menahanya tak ingin terlihat ibu dan tak ingin melihat ia sedih saat aku berlalu nanti “hati-hati dijalan, setelah sampai nanti berikan kabar kepada kami” ibu menjabat tanganku sembari memberikan tas yang dari tadi dia pegang. Aku melangkahkan kaki mendekati ayahku, kulihat wajanya dia tersenyum kearahku “hati-hati dijalan” kata ayah, ia mengusap keningku sembari memelukku. Hari itu aku kembali ke Medan meninggalkan mereka, saat mobil kami mulai bergerak, lambaian tangan mereka tak lupa juga saya balas.

Didalam mobil aku mencoba melupakan hal-hal kemarin, aku hanya berharap kedua orang tuaku bisa cepat kembali seperti yang dulu, dalam perjalanan aku lebih banyak tidur di dalam mobil, sesampinya di Medan tak lupa aku  sekedar mengirimkan pesan kepada mereka bahwa aku sudah sampai di Medan. Satu Dua minggu keadaan sudah mulai normal menurutku, aku ingin mematikanya kepada abangku yang masih dikampung sebelum dia berangkat minggu ini ke pekanbaru, hp nya tidak diangkat berapa kalipun aku coba sudah hubungi, berselang beberapa menit sebuah pesan pendek yang ternyata dari abangku datang “maaf dek, aku baru siap mandi. pagi ini aku harus brangkat kepekanbaru” ternyata dia akan beragkat pagi ini dan dengan segera aku menghubunginya kembali.

Saling menanyakan kabar seperti biasanya, tetapi aku  terdiam sejenak saat menanyakan kabar kedua orang tuaku “Ibu masih sering menagis, dan kemarin saat jiazah ibu selalu menagis dikuburan abang itu” lantas aku jadi diam mendegarnya, sepatu yang aku semir aku letakkan kembali, “terus bagaimana ayah”, “ayah lebih banyak diam sekarang dek, terkadang kalau dia duduk sendiri, air matanya menetes, sepertinya ayah yang lebih terpukul dek, kamu harus sering-sering telepon mereka nanti yah” “ia bang” aku hanya mengatakan ia, kuusap keningku sendiri dan tak kubiarkan air mataku untuk menetes. Aku tidak bisa memikirkan banyak hal saat ini, semuanya tersita kembali kepada ibu dan ayahku.

“Ayah…!!! sampai kapan? tidakkah kalian melihat kami anak-anakmu yang lainya”, mungkin sulit tetapi sudah bertambah sulit jika seperti ini terus bu”. Aku   berjalan mondar-mandir diruangan kamar konstku itu. Tidak lagi aku mengetahui apa yang harus aku lakukan, kecuali aku hanya berserah kepada Tuhan, Semoga semua ini cepat berlalu dan Suasana disana kembali normal. “Bantu Mereka Tuhan, jangan engaku biarkan mereka semakin terjatuh.” (*)

By: Anju MS SE

  1. 10 April 2012 pukul 7:51 AM

    Semangat Anju….badai pasti berlalu

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: