Beranda > Semua Tulisan > Selamat Jalan Abangku

Selamat Jalan Abangku


 

Tulisan ini kutucukan kepada abang kami tercinta yang telah pergi menghadap Tuhan, kami akan selalu mengenangmu bang..!!! memberikan yang terbaik yang engkau katakan dahulu akan kami lakukan untuk membahagiakan kita semua. SELAMAT JALAN ABANG TUHAN MENERIMA ABANG DISISINYA.

TERINGAT akan seluruh apa yang kita jalani bersama, menjalani hari-hari dengan penuh tawa dan canda.  Dari kita beranjak dewasa disaat dahulu masih duduk dipangkuan Ayah dan Bunda tercinta. Kalau aku mengigat semua ini di saat ini dimana aku masih diberi waktu oleh Tuhan  untuk menuliskan kisah itu, tetapi bagaimana denganmu. Engkau yang dahulu mengubar senyum dan tawa saat kita merayakan pergantian tahun engkau berikan  kembang api kepadaku didetik-detik pergantian tahun tersebut. Dengan kebahagiaan yang digambarkan oleh canda dan tawa aku menyalakan kembang api tersebut disaat itu juga engkau mengabadikanya dengan kamera ponsel yang saat ini menjadi sebuah kenangan terindah untukku yang akan selalu kukenang .

Tetapi semua tentang apa yang kita lalui bersama kini tinggalah sudah menjadi kenangan, engkau pergi menghadap Tuhan kita, pergi meninggalkan kami yang mengasihimu di sini.  Jika aku diperkenankan untuk melihat kembali kebelakang untuk sejenak saja, mungkin uraian air mata akan semakin panjang terlihat dan anggukan tangis yang akan masih terdengar sampai saat ini melihat tuhuhmu yang dulu tegak, mengenang engkau yang selalu ramah untuk setiap orang, kini..!! kini terbujur kaku di hadapan kami tampa menyahut saat aku memanggil, tampa mempedulikan setiap orang yang duduk di sekelilingmu, seberapa keraspun kami menagis, seberapa keraspun kami memangil namamu sampai kami lemah, engkau tidak mempedulikan kami lagi.

Di keheningan malam aku terbaring,  mata seakan tak rela untuk terpejam, hati membisu dan pilu. Aku hanya bisa merenung dan merenung tentang semua apa yang terjadi di dalam keluarga kita, bukan hanya kali ini Tuhan memberikan pencobaan kepada keluarga kita tentang apa yang dahulu kita rasakan bersama, kini memberikannya kembali buat kami yang engaku tinggalkan. Banyak sudah kenagan yang kita lalui bersama, 21 tahun kita bersama betapa banyaknya kenagan – kenangan yang sudah terukir disepanjang waktu itu, mungkin saja disaat engkau masih ada aku tak mengingat-ingat semua itu. Tetapi disaat seperti ini, saat ini, saat aku tak akan melihat engkau untuk selama-lamanya apa yang dapat lagi kulakukan? waktu tak bisa lagi diputar kembali, detik terus bergerak tampa mempedulikan siapapun yang  berseru memohon.

Tuhan begitu beratnya pemcobaan yang Engku berikan, betapa berarnya pencobaan yang engkau berikan kepada Ayah dan Ibu. Adakah setelah ini Kebahagiaan akan terlintas diantara kami? 24 Maret 2012 di sore hari yang sejuk dan indah dimana orang-orang menyenangkan diri di sudut-sudut kota, menikmati indahnya suasana sorehari dan akhir pekan dipelataran taman-taman kota, lain dengan aku seorang. Hati terasa pedih dan sakit, muka pucat dan badan merian seakan aku tak percaya dan tak percaya akan apa yang kudengar, di ujung telepon ayah terisah dengan suara yang serak, “nak tabahkan hatimu, kita harus menerima keadaan ini kamu harus pulang abangmu telah meninggal.” Aku tak bisa berkata apa-apa sontak saja badan ini kaget dan meriang, aku coba menanyakanya kembali sama ayah, tetapi ayah katakan jawaban yang sama, mata yang dulu terus berbinar kini berkaca-kaca air mataku menetes tampa aku sadari pedih rasanya yang aku alami, aku ditinggalkan abang yang aku sanyagin dan menjadi panutan kepada kami.

Sekejab saja dia pergi tampa sedikit pun pesan,  dihari itu juga dimana malam sudah tiba aku bergegas pulang ke kampung halaman. Di dalam bus diperjalanan, rasa sakit itu semakin terasa air mata terus bercucuran. Tuhan apa yang terjadi kepada kami..!! cobaan apa yang engkau berikan kepada kami, aku diam dan membisu dengan seribu pertanyaan muncul di dalam hati, detak jantung semakin kenjang, napas terasa sesak dan mata ini kembali berkaca-kaca saat memasuki gerbang desaku. Air mata mulai menes saat tiba di halaman rumah, dari halaman aku melihat Ayah Ibu dan keluarga-keluarga lainya tertunduk dan menangis mengelilingi engkau yang terbaring kaku. Mata yang tadi berkaca-kaca kini ibarat cangkir yang tumpah, kedua telapak tanganku ku letakkan dimulut tak tahan rasanya melihat abang kandungku terbujur kaku dihadapanku. Kenapa engkau meninggalkan kami…!!! hanya itu yang dapat kuucapkan dari bibir ini dan rasa sakit yang dari tadi kurasakan kini semakin berat saja.

Dengan kepala menunduk aku duduk, ratusan orang yang datang mengucapkan turut berduka cita tak satupun kupedulikan air mata tak habis-habisnya mengalir, Tuhan..!! kuatkan kami..!!, sepenggal kata yang selalu kuucapkan didalam hati ini. Aku terus memandangi wajahnya tak ada lagi senyum dan tawa, kini hanya gambaran ketengan yang tergambar. Dia sudah tenang, dia sudah sembuh dari segala apa yang dia rasakan. Tak bisa aku berpaling dari wajahnya, sesaat lagi aku tak melihat dia lagi bukan untuk sesaat atau untuk sementara tetapi untuk selama-lamanya selama aku masih hidup di dunia ini, kulihat kedua orang tuaku dan juga keluarga-keluargaku, betapa berat apa yang mereka rasakan saat ini, seberapa banyakpun orang datang memberi penghiburan rasanya tiada arinya lagi, rasanya mereka hanya berkata-kata tampa mengatakanya dari apa yang kami rasakan, mereka menagis saat melihat kami menangis, setelha mereka melangkahkan kaki keluar mereka tertawa.

Selamat jalan abang..!! selamat jalan, Doa kami menemanimu ke surga..!! sepenggal kata yang kubisikkan saat kami akan melepas kepergianya, aku mencium pipinya lalu memisikkan kata itu, dihari itu juga kami akan berpisah dari orang yang kami kasihi, disaat itu juga mimpi-mimpinya diberikan kepundak kami. Kami yang akan melanjutkan mimpi-mimpinya, kami yang akan melanjutkan harapan-harapanya dan kami yang akan melanjutkan langkahnya yang sempat terputus, saat tuhunya tak terlihat lagi oleh tanah aku berkata dalam hati biarlah harapan-harapan dan mimpi-mimpi itu bertumbuh dan berakar diantara kami yang engaku tinggalkan. Tuhan jadikanlah ari mata ini air mata kebahagiaan buat kami, walau sampai saat ini air mata itu terlihat mengenang semua kenangan yang kita lalui, tetapi itu adalah sebagai pengobat rindu buat kami untukmu abang.(*)

SELAMAT JALAN ABANG EKO ROLLYS SINAGA, TUHAN KITA MENEMPATKANMU DISISINYA. BIARKANLAH NAMA ITU YANG AKAN SELALU HIDUP DIANTARA KAMI YANG ENGKAU TINGGALKAN.

By: Anju MS

Kategori:Semua Tulisan
  1. netti
    29 Maret 2012 pukul 4:45 AM

    Turut brduka, ttp kuat n sabar , Tuhan slalu mnggendong-mu.

    • anjusinaga
      29 Maret 2012 pukul 10:15 AM

      terima kasih ya teman…!!!!

  2. mietha carolina
    1 April 2012 pukul 4:07 PM

    turut berduka cita eah bngg…semoga abng ditempatkan di sisinya….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: