Beranda > Cerita Kita, Cerpen, Gareri Photo > Suara tak Terdengar

Suara tak Terdengar


Image

nah…!!! tulisan kali ini saya mengambil topik dari kegiatan perburuan hama tikus disebuah wilayah persayawan di arela lereng gunung sumatera utara. Secara umum, kegiatan tersebut sangat bagus terutama dalam memberantas hama yang mengganggu tanaman padi warna yang mendekati masa panen, tetapi bagamana cara dan perlakukan yang didapatkan hama tikus. Bagaimana mereka melakukanya, untuk apa dan mengapa mereka melakukanya (hama tikus) dari sisi tersebut saya menuliskan tulisan dibawah ini yang saya beri judul “Suara tak Terdegar”, dalam tulisan ini penulisan mengikut sertakan asas perasaan dan asas toleransi.

nah.!! yoo.. baca dulu…!!

DIPAGI buta, cuaca dingin yang menyegat, segerombor rentetan kaki terdegar dari berbagai sudut, seakan menyergap pagi itu akan menjadi hari yang terahir bagi sebagian diantar mereka. terlihat pedang bermata dua terayun ditagan, berbagai jenis alat pukul bergantungan di legan, seolah beratu diantara langkah-langkahnya, pagi itu menjadi hiburan bagi pengayun dentuman kaki tersebut, tetapi lain halnya dengan pengisi-nya.

Gemetar melihat kejadian tersebut, menjoba mengali lebih dalam untuk berlindung, tetapi dengan sekali bacok, tubuh mungilnya terhempas dipermukaan dan menjadi santapan perdana setiap pedang bermata yang diayunkan, hitungan menit ratusan nyawa terhampas kaku diujung sayatan-sayatan tajam, seolah tak berharga bagi penebas-nya, tetapi harta terindah diantar penyandangya.

Tikus-tikus kecil tak bertuan merengan nyawa di ujung langkah kaki-nya, disiksa lalu dibunuh dan tergantung di ranting banbu tajam, lambang penyiksaan baginya. “Sepantas-nya semagat ambisius menjabik dan menghempaskan tubuh tikus-tikus malang, dinyatakan bagi tikus-tikus siluman yang pandai mengikatkan dasi diantara kerah derita rakyaknya di Negeri ini.”

Berkelana di keramaian jeruji semak belukar bersenjatakan tubuh mungil berlari menjauh dan berlindung dari musuh, Si ular berkata daging kami kenyal, sehingga kami menjadi mangsa santapan utama perburuanya, Elang bertengger di pujuk dedahanan merunjingkan jakar-jakarnya untuk mengoyak badan mungilnya dan menghempaskanya menjadi beberapa bagian kecil, jerat para penjaga ladang ancaman klak langkah kaki kecil ini, mungkin menjadi sebuah keluhan yang akan mereka sebutkan, jikalau kita mengerti dan saling paham akan sebuah arti bahasa.

Mengapa kami yang lemah tertindas di setiap sisi, disiksa dan dibunuh. takkala anak-anaknya mengais dibawah pori tanah berair, berharap sang induk yang dipenggal pedang bermata, pulang menghagatkan tubuhya yang masih memerah, tetapi Nasib yang akan bekelana di setiap detik langkah mungkil tikus-tikus kecil itu.

Melangkahkan kaki, mengatarkan nyawa, bertahan hidup menjadi wacana hidup. Setiap detik nyatakan waspada gerak-gerik dari setiap sudup menjadi musibah mungkin ibarat rentetan-rentetan peluru dalam sebuah penjajahan.
“Kami makan apa yang di wajibkan untuk kami, tinggal dirumah yang dinyatakan untuk kami, sedia kala dikata Menjadi ancaman?? bukan, ibarat benalu melekat pada dahan pohon, jikalau terlihat oleh mata, dengan ganas tangan akan mengejam dan melemparkanya kedalam bara api yang menyala, demikian kami di antara tanah ini.” demikian mereka dipandang.

Kawan..!!! Kami juga ingin hidup selayaknya seperti anda, melangkah kan kaki sesuai tahta, tampa ancaman sekalipun, penomenal jikalau kaki kejalan yang menjadi tahta Manusia menginjakkan kaki, karena itu berikan kami hidup di deretan hukum alam ini. seru-nya berharap bukan mengecam, tak panda berucap, apalagi berkata-kata. tindakan saja menimbulkan musibah bagi diri sendiri apalagi gerak-gerik, sebenarnya mereka bisa berucap tetap tak ada yang mengerti dan memahami akan hal yang mereka utarakan. suara itu diam seakan takterdengar (*).

nah…!! jangan lupa baca juga tulisan lainya di sini ni…!!! http://sinagaanju.blogspot.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: